Bingung Cari Guru Ngaji? Lihat, Sudahkah Guru Ngajimu Berakhlak Salaf?

Beberapa Nasehat Salaf dalam Memilih “Guru Ngaji”

A. Pengantar
Pembaca mulia, kita semua tentu ingin masuk surga. Kita pun menyadari bahwa jalan satu-satunya menuju surga adalah dengan mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Untuk bisa melaksanakan itu, tentu kita harus mengikuti utusan Allah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diberi wahyu untuk menyampaikan syariat Allah ta’ala. Setalah itu, kita pun harus memahami petunjuk Nabi sebagaimana yang dipahami para shahabat beliau, karena merekalah manusia mulia yang hidup menyertai Nabi, dan langsung mendapat bimbingan dan pengarahan dari beliau.

Nah, pertanyaan yang muncul adalah bagaiamana kita bisa memahami petunjuk Nabi dan para shahabatnya, padahal kita di zaman yang lebih dari seribu tahun dari masa mereka?

Untuk menjawab hal itu, tentu kita harus mengikuti siapa saja di masa ini yang berpegang teguh pada ajaran Nabi dan para shahabatnya karena ajaran Islam ini berantai. Artinya, Islam datang kepada kita melalui jalur periwayatan, bukan dari mimpi, atau wangsit hasil perenungan manusia. Oleh karena itu, untuk menjaga kemurnian agama ini, para ulama terdahulu (salaf) benar-benar membuat sarat yang ketat, agar tidak semua orang yang berbicara tentang agama dapat diambil ilmunya.
Maka, kalau kita memabaca sejarah kehidupan salaf, niscaya kita dapati mereka adalah manusia yang sangat bersemangat terhadap ilmu, menjaga ilmunya, mengamalkan ilmunya, dan wara’ dengan ilmunya tersebut. Inilah manusia yang layak dijadikan “guru ngaji”.

Adapun sekarang, kita dapati kaum muslimin demikian mudah mengangkat orang menjadi “guru ngaji”. Maka, tidak sedikit kita temui ada manusia yang tidak mengetahui Al-Qur’an dan Hadits, tetapi ia dijadikan sebagai da’i hanya karena pintar berorasi. Di sisi lain, kita temui pula sebagian da’i yang sudah mengenal ilmu syar’i, tetapi ia tidak menghiasinya dengan akhlak Islami. Adapula orang-orang yang mengaku salafi, tetapi tidak berakhlak sebagaimana akhlak salaf.

Nah, point terakhir inilah yang sebenarnya menjadi titik pembahasan penyusun. Dengan dahsyatnya fitnah dakwah yang kita rasakan sekarang ini, tidak sedikit para penuntut ilmu salafi (orang yang senantiasa ingin meneladani salaf) menjadi bingung. Saya harus ngaji kepada siapa? Banyak orang mengaku salafi. Akan tetapi, mengapa mereka bermusuhan?

Pembaca mulia, di sisi lain, kini ada pula pihak yang ingin merusak persatuan ikhwah salafiyyin (yang mencintai dan bersemangat meneladani salaf), dengan memunculkan istilah-istilah baru untuk memecah belah persaudaraan, seperti salafi haraki, salafi yamani, salafi halabi, salafi muqbili, atau salafi rabi’i. Anehnya, pihak yang memunculkan istilah ini pun ngaku-ngaku dakwah salafiyyah adalah dakwah yang bijak.

Maka, semua hal di atas semakin menguatkan pertanyaan banyak kaum muslimin,
Kita mau mengambil ilmu kepada siapa?
Kepada ustadz siapa kita harus ngaji?
Mana yang benar-benar meneladani salaf?
Benarkah ustadz fulan membenci manhaj salaf?
Siapakah ustadz yang benar-benar menjaga kemurnia agama ini?
Siapa…? Siapa…?
Karena saya ingin masuk surga……

Berdasarkan hal di atas, muncullah inspirasi untuk menulis risalah ini. Maka, dengan ini, penyusun berupaya mengumpulkan sebagian akhlak guru ngaji di masa salaf, agar pembaca bisa membuat kesimpulan, “Sudahkah guru ngaji saya meneladani salaf?”
Ini penting untuk kita ketahui karena
Tidak semua orang yang menamakan dirinya salafi, belum tentu ia benar-benar mengikuti salaf. …
Belum tentu orang yang sudah lama ngaji dengan ulama atau syaikh salafi, ia berilmu dan berakhlak sebagaimana gurunya….
Maka, penyusun pun berharap agar dengan ditulisnya risalah ini, sekaligus bisa menjadi nasehat bagi setiap da’i agar senantiasa menghiasi dirinya dengan sikap wara’, karena hal inilah yang akan mempermudah dirinya dalam mendakwahkan Islam dan indahnya manhaj salaf. Sesungguhnya mendakwahkan al-haq sudah berat, dan jangan diperberat lagi dengan buruknya akhlak kita.

Abu Nua’aim Ahmad bin Abdillah Al-Ashfahani (أبو نعيم أحمد بن عبد الله الأصبهاني ) berkata, “Muhammad bin Ali (محمد بن علي ) menyampaikan kepadaku bahwa “Ahmad bin Muhammad bin Al-Hasan Adh-Dhirab (احمد بن محمد بن الحسن الضراب ) menyampaikan kepadaku bahwa “Ali bin Muhammad Al-Khulwani (علي بن محمد الحلواني )menyampaikan kepadaku bahwa “Ahmad bin Basyar bin Bakr (احمد بن بشر بن بكر ) menyampaikan kepadaku bahwa “Ayahku menyampaikan kepadaku dari Al-Auza’i (الاوزاعي ) dari Az-Zuhri (الزهري ), “Beliau berkata,
كنا نأتي العالم فما نتعلم من أدبه أحب إلينا من علمه
“Kami pernah mendatangi seorang ahli ilmu. Kemudian, kami lebih suka mempelajari etikanya daripada ilmunya.”
(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , III/362).

B. Tinjauan Pustaka
Semua nukilan salaf dalam risalah ini, dinukil dari kitab حلية الأولياء وطبقات الأصفياء, karya أبو نعيم أحمد بن عبد الله الأصبهاني, cetakan IV, tahun 1405H, terbitan دار الكتاب العربي – بيروت. Kitab cetakan ini dapat disearch di software المكتبة الشاملة. Penomoran jilid dan halaman dalam المكتبة الشاملة sesuai dengan kitab aslinya.

C. Alasan Pemilihan Kitab Rujukan
Berbicara mengenai Kitab حلية الأولياء وطبقات الأصفياء (kitab ini ada 10 jilid), cukuplah penyusun nukilkan perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah tentangnya. Beliau pernah ditanya tentang seorang yang mau mendengar kitab-kitab hadits dan tafsir, tetapi ketika kitab Al-Hilyah dibacakan, ia tidak mau mendengarnya. Maka, Ibnu Taimiyyah rahimahullah pun mengatakan bahwa Abu Nu’aim rahimahullah adalah ,

من أكبر حفاظ الحديث ومن أكثرهم تصنيفات وممن إنتفع الناس بتصانيفه وهو أجل من أن يقال له ثقة فإن درجته فوق ذلك وكتابه كتاب الحلية من أجود الكتب المصنفة فى أخبار الزهاد

Salah satu penghafal hadits terkemuka, penulis buku terbanyak, dan karya tulisannya dimanfaatkan banyak orang. Dia lebih mulia dari sebutan tsiqah (terpercaya) karena kualitasnya lebih tinggi dari gelar itu. Adapun kitabnya, Kitab “Al-Hilyah”, adalah salah satu kitab terbaik yang mengangkat kisah-kisah orang zuhud.
(lihat perkataan Ibnu Taimiyyah ini dalam مجموع الفتاوى, jilid 18 dalam software المكتبة الشاملة, halaman 71-72).

Meskipun demikian tinggi pujian Ibnu Taimiyyah terhadap Abu Nu’aim beserta kitab Al-Hilyah, alhamdulillah takdir Allah tetap berlaku bahwa tidak ada kitab yang paling sempurna selain kitabullah (Al-Qur’an). Oleh karena itu, di tempat lain Ibnu Taimiyyah juga memberi catatan bahwa dalam Al-Hilyah juga terdapat hadits-hadits dan riwayat lemah (penilaian Ibnu Taimiyyah ini juga masih di مجموع الفتاوى, jilid 18, halaman 71-72).

[ tulisan terlalu panjang, lihat selengkapnya di
http://alashree.wordpress.com/2010/01/22/cari-ustadz-salafi/ ]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: